Cerita dari Lapangan
<h2><a href='#' target='_blank'>groundcheck batas areal restorasi</a></h2><p>groundcheck batas areal restorasi
</p><h2><a href='#' target='_blank'>kesenian-jaranan-kepang-di-ultah-pekon-pesanguan</a></h2><p>kesenian jaranan kepang di ultah pekon pesanguan
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Monitoring atau Evaluasi</a></h2><p>Monitoring atau Evaluasi
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Pengayakan Pupuk organik agar halus</a></h2><p>Pengayakan Pupuk organik agar halus
</p><h2><a href='http://programtfcaunilapili.com/index.php/tentang-kami' target='_blank'>Plang Nama Pembibitan</a></h2><p>Plang Nama Pembibitan
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Rapat anggota</a></h2><p>Rapat anggota
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Saat akan melakukan groundcheck batas areal</a></h2><p>Saat akan melakukan groundcheck batas area
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Sumber Bibit dalam Hutan</a></h2><p>Sumber Bibit dalam Hutan
</p>
поздравления с новорожденным

Bapak Dukut, Petani padi wilayah Pekon Sedayu belakangan ini dibuat resah dengan gajah – gajah yang memasuki lahan sawahnya. Gajah – gajah ini merupakan gajah mancingan, disebut gajah Mancingan karena berasal dari sungai mancingan yang mengaliri wilayah Pekon Sedayu. Bukan hanya lahan sawah milik Pak Dukut saja yang didatangi namun juga lahan pertanian lainnya milik masyarakat. Berdasarkan Polisi Kehutanan TNBBS resort Sukaraja, konflik antara gajah dan manusia sering terjadi di kawasan ini. Hal ini dikarenakan wilayah Pekon Sedayu memang berbatasan langsung dengan Kawasan TNBBS dan Hutan Lindung.

burng di dalam kotak penyimpanan burungPerburuan satwa burung masih sering terjadi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Hal ini terungkap dalam rapat mitra pada 19 Maret 2013, yang dimoderatori oleh Kepala Seksi Taman Nasional Wilayah I Sukaraja Jimmy Fonda. Perburuan burung mudah dan murah. Hasilnya cukup menggiurkan sehingga mengundang para pemburu tetap bernafsu menangkap burung. Harga burung dipasaran berkisar antara p 10 ribu - Rp 500 ribu, tergantung jenisnya.

“Way” berasal dari bahasa Lampung yang berarti “sungai”. Way Biha merupakan salah satu sungai yang cukup besar di Lampung Barat yang merupakan pertemuan 10 hulu sungai atau sumber mata air dimana delapan hulu sungai berasal dari kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yaitu lima hulu berasal dari Resort Suoh dan tiga hulu berasal dari Resort Biha. Sedangkan dua hulu lagi masing-masing dari hutan produksi terbatas (HPT) dan Hutan Lindung yang berbatasan langsung dengan taman nasional.


Kehidupan masyarakat Lampung Barat khususnya kecamatan pesisir Selatan yang berdekatan dengan laut sangat bergantung pada aliran Way Biha. Way Biha merupakan sumber kehidupan bagi beberapa desa yang merupakan jalur aliran Way Biha, beberapa diantaranya adalah desa Paku Negara, Siring Dadi, Biha, Poserhari, Pelitasari, Gunung Sari.

Masyarakat yang di tinggal desa – desa tersebut mayoritas adalah petani yang sangat diuntungkan dengan adanya Way Biha ini dengan memanfaatkan Way Biha sebagai aliran irigasi. Pada tahun 2005 pemerintah membangun bendungan irigasi Way Wiha yang terletak di desa Paku Negara yang dimanfaatkan sebagai irigasi sawah di hampir enam desa. Rehabilitasi bendungan Way Biha dan jaringannya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produksi tanamannya oleh sejumlah 1.360 kepala keluarga  petani untuk mengairi sawah mereka yaitu seluas 953,76 Ha. Way Biha sejak dulu juga dimanfaatkan sebagai sumber air minum, mandi, mencuci bahkan. Namun belum dimanfaatkan secara maksimal menjadi kolam - kolam ikan di lokasi-lokasi genangan air Way Biha yang dulunya adalah sawah yang kemudian berubah menjadi genangan air dari pembuangan irigasi Way Biha. Hal ini dilatarbelakangi oleh kurangnya perhatian pihak pemerintah dan juga kesadaran masyarakat sekitar akan potensi yang masih bisa dikembangkan yaitu perikanan sebagai alternatif pendapatan masyarakat.

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk maka kebutuhan masyarakat akan air pun bertambah pula setiap tahunnya. Saat ini kebutuhan air untuk irigasi sawah di pesisir Selatan sudah mulai berkurang pada musim kemarau. Kekurangan air pada musim kemarau ini menunjukkan adanya ketidakstabilan tangkapan air di sepanjang aliran sungai. Banyak sampah organik seperti kayu-kayu yang menghambat aliran sungai, sehingga perlu pengelolaan aliran sungai yang lebih baik dimana melibatkan semua komponen baik pemerintah maupun masyarakat. (Jhon)

Komentar Anda

  • Belajar lebih dekat tentang pengelolaan berbasis resort di Model Desa Konservasi TNGHS

    Ayi setiawan
    semoga ilmu yg di dapat dapat di aplikasikan.. terimakasih untuk UNILA & PILI

    Read more...

     
  • Pelatihan Fotografi

    Ayi setiawan
    nice info

    Read more...