Liputan Program
<h2><a href='#' target='_blank'>groundcheck batas areal restorasi</a></h2><p>groundcheck batas areal restorasi
</p><h2><a href='#' target='_blank'>kesenian-jaranan-kepang-di-ultah-pekon-pesanguan</a></h2><p>kesenian jaranan kepang di ultah pekon pesanguan
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Monitoring atau Evaluasi</a></h2><p>Monitoring atau Evaluasi
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Pengayakan Pupuk organik agar halus</a></h2><p>Pengayakan Pupuk organik agar halus
</p><h2><a href='http://programtfcaunilapili.com/index.php/tentang-kami' target='_blank'>Plang Nama Pembibitan</a></h2><p>Plang Nama Pembibitan
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Rapat anggota</a></h2><p>Rapat anggota
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Saat akan melakukan groundcheck batas areal</a></h2><p>Saat akan melakukan groundcheck batas area
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Sumber Bibit dalam Hutan</a></h2><p>Sumber Bibit dalam Hutan
</p>
поздравления с новорожденным

Pertemuan tersebut dilakukan untuk menyiapkan kelembagaan masyarakat di tingkat resort TNBBS yang cikal bakalnya sudah dibentuk oleh masyarakat didampingi fasilitor Konsorsium Unila-PILI pada awal Maret. Pertemuan hari pertama diisi dengan pembekalan oleh Prof. Dr. Wan Abbas Zakaria. Dalam pemaparannya Wan Abbas menyampaikan esensi organisasi ekonomi petani bahwa suatu kelembagaan harus memperhatikan faktor-faktor sumberdaya manusia, teknologi, tujuan dan aturan main organisasi untuk mencapai kinerja yang baik. Untuk mencapai tujuan mensejahterakan masyarakat, pemberdayaan kelembagaan perlu didukung oleh usaha ekonomi dan lembaga keuangan yang kuat. “Adanya usaha ekonomi dan lembaga keuangan kelompok merupakan dua pilar untuk menopang atap (tujuan) rakyat sejahtera lingkungan lestari”, demikian disampaikan Wan Abbas. Peserta kemudian diberi bimbingan teknis pembentukan dan pengembangan lembaga keuangan dan unit bisnis yang disampaikan oleh Firdasari, S.P., M.E.P. dan Susni Herwanti, S.Hut., M.S. yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang difasilitasi oleh Duryat, S.Hut., M.Sc., akademisi dari Jurusan Kehutanan Unila.

Acara dilanjutkan dengan focused group discussion (FGD) oleh masing-masing kelompok untuk menyusun kesepakatan dan rencana kelompok. “Melalui pertemuan ini diharapkan masyarakat dapat membentuk kelembagaan yang sudah memiliki nama kelompok, struktur, susunan pengurus, aturan main, rencana usaha, dan kelengkapan kelembagaan lainnya”, ujar Dr. Chistine Wulandari selaku Koordinator Konsorsium Unila-PILI.

Hasil FGD dipresentasikan oleh perwakilan masyarakat dari masing-masing resort TNBBS. Perwakilan masyarakat dari Resort Way Nipah menyepakati untuk membentuk sebuah lembaga keuangan yang diberi nama Kelompok Sido Maju. Kelompok lain yang disepakati untuk dibentuk meliputi: Kelompok Wonorejo dan Wana Lestari (Resort Sukaraja), Kelompok Lestari Sejahtera (Resort Balik Bukit), Kelompok Sidorejo (Resort Biha), Kelompok Ratu Agung (Resort Pugung Tampak), dan Kelompok Sido Muncul (Resort Merpas). Mereka memaparkan struktur organisasi, gambaran umum kelompok, hak dan kewajiban pengurus, rencana kegiatan, rencana produksi, rencana pemeliharaan, rencana pemasaran, rencana pengeluaran biaya, iuran kas kelompok, rencana pembagian keuntungan, pengelolaan dana dan pertanggungjawaban pengurus kelompok. Rencana yang dipresentasikan selanjutnya dibahas dan diberi masukan oleh perwakilan TNBBS dan dinas-dinas terkait di Lampung Barat dan Tanggamus.

Dr. Christine Wulandari selaku Koordinator Konsorsium Unila-PILIdi akhir acara menyampaikan bahwa pertemuan yang sudah dilaksanakan selama dua hari tersebut merupakan kegiatan awal, rencananya Konsorsium Unila-PILI akan mengadakan pelatihan lanjutan untuk pengembangan kelembagaan yang sudah dibentuk. Beliau mengharapkan agar peserta yang hadir dalam kegiatan selanjutnya tidak berubah sehingga tidak perlu memulai dari awal.Acara kemudian ditutup oleh Kepala BPTN I Semaka,Ir. Jhonny Lagawurin. Beliau berpesan kepada seluruh peserta bahwa hal-hal yang berhubungan dengan kelembagaan merupakan suatu kemampuan awal kelompok dan merupakan proses pembelajaran. Lagawurin berharap kedepannya program pemberdayaan masyarakat dapat melibatkan semua pihak, dan semua yg terlibat dalam pemberdayaan ini diharapkan dapat membantu dalam usaha pelestarian TNBBS. Usaha-usaha yang dilakukan adalah dengan intensifikasi, dan masyarakat menentukan sendiri apa yg akan dilakukan, tidak dipaksakan oleh pihak TNBBS, kesepakatan-kesepakatan dibuat sendiri oleh masyarakat, agar peraturan-peraturan tersebut dapat dijalankan oleh masyarakat tanpa intervensi pihak TNBBS. Lagawurin menambahkan bahwa pihak TNBBS akan selalu siap mendampingi masyarakat untuk kemajuan masyarakat dan dalam upaya pelestarian TNBBS (Wahyu)

You have no rights to post comments

Komentar Anda

  • Belajar lebih dekat tentang pengelolaan berbasis resort di Model Desa Konservasi TNGHS

    Ayi setiawan
    semoga ilmu yg di dapat dapat di aplikasikan.. terimakasih untuk UNILA & PILI

    Read more...

     
  • Pelatihan Fotografi

    Ayi setiawan
    nice info

    Read more...