Tentang Kami
<h2><a href='#' target='_blank'>groundcheck batas areal restorasi</a></h2><p>groundcheck batas areal restorasi
</p><h2><a href='#' target='_blank'>kesenian-jaranan-kepang-di-ultah-pekon-pesanguan</a></h2><p>kesenian jaranan kepang di ultah pekon pesanguan
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Monitoring atau Evaluasi</a></h2><p>Monitoring atau Evaluasi
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Pengayakan Pupuk organik agar halus</a></h2><p>Pengayakan Pupuk organik agar halus
</p><h2><a href='http://programtfcaunilapili.com/index.php/tentang-kami' target='_blank'>Plang Nama Pembibitan</a></h2><p>Plang Nama Pembibitan
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Rapat anggota</a></h2><p>Rapat anggota
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Saat akan melakukan groundcheck batas areal</a></h2><p>Saat akan melakukan groundcheck batas area
</p><h2><a href='#' target='_blank'>Sumber Bibit dalam Hutan</a></h2><p>Sumber Bibit dalam Hutan
</p>
поздравления с новорожденным

Perambahan adalah gejala (symptom), sementara akar masalah (root causes) dari aktivitas kejadian perambahan tersebut sangat kompleks. Berdasarkan pengamatan PILI Green Network yang pernah terlibat dalam kajian perambahan di TNBBS tahun 2009, diperoleh temuan-temuan terkait dengan maraknya perambahan di kawasan TNBBS, yaitu: 1) Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk baik akibat tingginya angka kelahiran maupun migrasi menyebabkan kebutuhan terhadap lahan terus meningkat pesat dan pencarian lahan garapan secara agresif juga terus meningkat; 2) Kondisi sosial ekonomi (kemiskinan akibat kelangkaan alternatif pendapatan) masyarakat di sekitar kawasan konservasi; 3) Lemahnya pengelolaan kawasan taman nasional di tingkat lapangan (atau resort) sehingga kawasan terkesan open access dan tak terkendalikan; 4) Manfaat dari keberadaan taman nasional belum dirasakan secara langsung oleh masyarakat sekitar kawasan; 5) Peran instansi-instansi pemerintah yang memiliki tugas pokok dan fungsi pembangunan masyarakat tidak bekerja optimal, terutama di daerah-daerah penyangga kawasan konservasi; 6) Perambahan di TNBBS telah menyebabkan fragmentasi habitat yang sekaligus menurunkan daya survival berbagai jenis satwa langka, dilindungi dan terancam punah yang hidup di kawasan TNBBS. Sehingga pemulihan areal yang dirambah perlu dilakukan dengan secara tepat.

Balai Besar TNBBS sebagai pemegang otoritas pengelolaan kawasan TNBBS memiliki berbagai keterbatasan sehingga tidak akan mampu menangani semua akar masalah tersebut sangat terbatas. Di sisi lain, upaya untuk mempertahankan kelestarian hutan ini, terutama hutan-hutan yang masih memiliki nilai konservasi tinggi – baik dari segi fungsi biodiversity, hidrologi, penyimpan stock karbon, dan lain lain – adalah tanggung jawab semua pihak yang berkepentingan baik pada tingkat local, nasional maupun internasional. Untuk itu, Konsorsium UNILA-PILI menganggap bahwa usulan ini sangat relevan diusulkan kepada TFCA-Sumatera.

Program konsorsium UNILA-PILI kepada TFCA-Sumatera diarahkan untuk menangani beberapa akar masalah yang dianggap mendesak dan memiliki magnitude terhadap penyelesaian masalah-masalah lainnya. Masalah-masalah yang dimaksud dan intervensinya adalah sebagai berikut: 1) Lemahnya pengelolaan kawasan di tingkat tapak. Masalah ini akan diintervensi melalui penerapan pengelolaan berbasis resort (RBM). Jika frekuensi kehadiran petugas di lapangan tinggi, maka komunikasi dan interaksi petugas dengan masyarakat akan lebih intensif, potensi gangguan akan terdeteksi sejak dini sehinga dapat dicegah tanpa harus menunggu menjadi besar dan sulit ditangani. RBM juga mengarahkan para petugas lapangan melakukan penggalian potensi kawasan yang dapat digunakan untuk pengembangan aspek pemanfaatan kawasan taman nasional bagi masyarakat; 2) Fragmentasi habitat. Masalah bukan termasuk kategori root cause tetapi merupakan masalah yang mendesak untuk ditangani mengingat dampknya telah sangat nyata dirasakan. ini akan diintervensi melalui restorasi yang sedapat mungkin dilakukan melalui skema restorasi berbasis masyarakat untuk meningkatkan kepedulian dan rasa memiliki dari masyarakat terhadap kawasan taman nasional. Pelaksanan restorasi berbasis masyarakat ini juga akan dipromosikan sebagai upaya peningkatan stock karbon hutan, sehingga masuk sebagai elemen kelima dari kerangka kerja REDD+, yaitu enhancement carbon stock; dan 3) Minimnya nilai manfaat langsung keberadaan kawasan bagi masyarakat. Masalah ini akan diintervensi melalui pengembangan potensi jasa ekosistem, terutama pemanfaatan landscape beauty melalui skema community based ecotourism. Selain potensi ekowisata, potensi-potensi lain (air/HHBK/potensi sumberdaya local di daerah penyangga) juga akan ditelaah dan dikembangkan dalam kerangka pemberdayaan ekonomi lokal.

Komentar Anda

  • Belajar lebih dekat tentang pengelolaan berbasis resort di Model Desa Konservasi TNGHS

    Ayi setiawan
    semoga ilmu yg di dapat dapat di aplikasikan.. terimakasih untuk UNILA & PILI

    Read more...

     
  • Pelatihan Fotografi

    Ayi setiawan
    nice info

    Read more...